Jumat, 06 Juli 2012

Tahukah Film Armageddon?

Bagi yang sudah menonton Film Armagedon pasti sudah tak asing lagi. Film Armageddon adalah  Film Hollywood yang termasuk film ber-budget besar ini merupakan film yang menggambarkan aksi heroisme astronot Amerika dalam misi penyelamatan bumi. Diceritakan dalam film tersebut bahwa meteor besar sedang dalam perjalanan menuju bumi. Artinya, kalau meteor tersebut sampai bertumbukan dengan bumi, kiamatlah yang terjadi—dalam versi mereka.

Maka, aksi menyelamatkan bumi pun menjadi sesuatu yang mesti. Sampai akhirnya, meteor tersebut tidak jadi menabrak bumi karena diledakkan terlebih dulu di angkasa. Peledakkannya pun digambarkan dengan sangat heroik, bagaimana seorang tokoh utamanya meledakkan dirinya bersama dengan meteor tersebut.

Tentunya kita tahu bahwa ada bermilyar-milyar benda langit yang bergerak bebas, yang sering kita sebut sebagai asteroid. Nah, meteor-meteor ini pun termasuk ke dalamnya. Gerakannya yang bebas dan ke mana saja itu, ada kalanya menuju bumi, bumi pun termasuk benda langit juga, kan? Bumi memiliki pelindung yang sering kita sebut sebagai atmosfer. Lapisan atmosfer inilah yang menjadi penyaring bagi meteorit yang hendak menuju bumi. Sehingga meteor yang hendak ke bumi, dibakar oleh atmosfer, yang dari bumi bisa kita lihat sebagai komet atau bintang berekor.

Kalau meteor tersebut akan dibakar di atmosfer, tentunya penghuni bumi aman dong dari ancaman meteor. Dan buat apa pula para astronot Amerika berpayah-payah menghancurkan meteor yang hendak meluncur ke bumi (dalam film Armageddon). Diperkirakan terdapat 100.000.000 meteor, baik besar maupun kecil yang memasuki atmosfer bumi setiap 24 jam. Jadi, bumi tempat kita hidup ini merupakan tempat yang rawan dari ancaman benda-benda langit yang bergerak bebas dalam aktivitasnya. Maka, Maha Suci Allah yang melindungi kita dan bumi dari ancaman meteor.

Nah, dari sekian banyak meteor yang menuju bumi, tentu ada meteor tertentu yang tidak bisa dibakar oleh atmosfer kita. Menurut teori dari Nicholas T. Bobrovnikoff, meteor terbagi ke dalam tiga unsur pembentuknya: meteor besi (91% besi dan 8,5% nikel), meteor batu (41% oksigen, 21% silikon, 14,3% magnesium), dan meteor campuran besi dan batu. Meteor besi (siderid) merupakan meteor yang tidak mudah dibakar oleh atmosfer bumi. Lalu, apa yang terjadi jika meter besi jatuh dan menumbuk permukaan bumi?

Dalam teori ilmiahnya, hanya besi (Fe), kobalt (Co), dan nikel (Ni) yang dapat menjadi magnet. Campuran besi dan nikel dapat menjadi magnet permanen. Campuran besi, dengan sedikit alumunium, nikel, kobalt (atau disebut ALNICO), dapat dijadikan magnet yang sangat kuat, sehingga dapat mengangkat 500 kali berat magnet itu sendiri. Bila campuran itu diberi rongga-rongga udara (dan meteor juga memiliki rongga-rongga udara), dapat menarik 4450 kali berat dirinya. Dari paparan teori ilmiah ini, ketika meteor jenis ini jatuh dan menumbuk permukaan bumi maka akan terjadi induksi magnetik yang sangat kuat di bumi.

Bumi memiliki medan magnet. Oleh medan magnet inilah, bumi bisa berputar dengan normal pada porosnya. Posisi bumi yang seimbang dengan planet lain dan matahari ditentukan pula oleh medan magnet ini. Ketika meteor besi jatuh ke bumi, maka medan magnet bumi akan bertambah secara signifikan. Sehingga memungkinkan keseimbangan bumi dan penghuninya terganggu. Bahkan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.

Di dalam tubuh manusia terdapat unsur besi. Kita tahu bahwa darah kita mengandung zat besi. Tiap sel darah merah mengandung 250 juta molekul hemoglobin dan satu milyar atom besi. Zat besi sangat penting bagi tubuh manusia. Jika tubuh kekurangan zat besi, maka manusia akan lesu, lemah tidak bertenaga, bahkan kalau berlarut-larut bisa menimbulkan anemia (kekurangan darah). Perpaduan medan magnet bumi dan unsur besi dalam darah manusia menjadikan peredaran darah lancar. Bila kekurangan medan magnet, manusia akan mengalami syndrom Defisiensi Magnet yang berakibat kekakuan pada bahu dan leher, muncul kegelisahan, kepala terasa berat dan pusing, sulit tidur dan kelelahan. Begitu pula jika yang terjadi sebaliknya, bila medan magnet terlalu besar maka akan membahayakan kesehatan manusia. 
Meteor yang jatuh ke bumi akan mempengaruhi medan magnet bumi dan mengancam keselamatan hidup manusia. Saking kuatnya medan magnet bumi yang bertambah, bahkan teknologi supercanggih sekalipun akan macet karena terkena dampaknya. Ketika medan magnet bumi mengalami peningkatan melebihi ambang batas yang disyaratkan, maka unsur atau zat besi yang terkandung dalam organ dan darah manusia akan hiperaktif terinduksi magnet, sehingga kepala jadi pusing, jantung berdegup lebih kencang, perut mual, menyebabkan halusinasi, dan sebagainya. Lalu, apa yang mesti dilakukan seorang Muslim ketika meteor yang bisa menginduksi medan magnet bumi ini jatuh?

Rasulullah bersabda, “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal. Kami bertanya, “Suara apakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan. Pada malam Jumat akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya. Pada malam Jumat di tahun terjadinya gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat shubuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya (ventilasi), dan selimuti diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ‘Mahasuci Al Qudduus, Mahasuci Al Qudduus, Rabb kami Al Qudduus!’, karena barangsiapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.” (Hadis dari oleh Nu’man bin Hammad).

Dari hadis di atas, sujud adalah sesuatu yang dianjurkan Rasulullah kala meteor jatuh ke bumi. Meteor yang jatuh dengan suara menggelegar tentu saja. Ada apa dengan sujud? Sujud adalah salah satu gerakan dalam shalat. Para pakar kedokteran mengatakan, dengan sujud maka aliran darah ke otak menjadi lebih optimal, seperti penelitian yang dilakukan Dr. Fidelma (seorang dokter neurologi). Tetapi, lebih dari itu, sujud merupakan terapi ampuh untuk menetralkan medan magnet dalam tubuh kita.

Ketika meteor jatuh, terjadi induksi magnetik hingga ada peningkatan kadar medan magnet yang membahayakan tubuh manusia. Maka sujud merupakan penetralnya. Sujud adalah menempelkan dahi ke bumi. Dengan menempelkan dahi ke bumi, maka medan magnet akibat induksi magnetik akan menjadi normal di tubuh kita. Bumi memiliki sifat penetral, dalam istilah elektro disebut Ardhe (Ardhe, berasal dari bahasa Arab Ardh: bumi). Hal ini pun dipertegas dengan hadis Nabi, “Sesungguhnya tanah dijadikan untukku sebagai penyuci/pembersih.” Dalam konteks tragedi Armageddon ini, bumi menjadi penetral.

Tradisi sujud hanya ada dalam Islam melalui praktik shalat. Sujud adalah bentuk penyerahan diri secara total seorang hamba kepada Tuhannya. Lebih dari itu, sujud merupakan terapi “pengisian ulang” medan magnet ke dalam tubuh. Seperti yang sudah kita singgung, di dalam tubuh kita ada unsur zat besi. Unsur zat besi dalam tubuh hanya mungkin beredar secara bebas ketika ada medan magnet. Nah, medan magnet itu didapatkan dari bumi (karena bumi mengandung medan magnet). Pengisian ulang medan magnet ini ada pada shalat (5 waktu = 34 kali posisi sujud).  Makanya, Rasulullah bersabda, “Penyejuk mataku adalah ketika berada dalam shalat.”

Bagi nonmuslim yang tidak memiliki tradisi sujud dalam ibadahnya, dia akan kekurangan medan magnet sehingga unsur zat besi dalam tubuh menjadi loyo. Oleh karena hal ini, maka hidup menjadi sempit, terasa banyak masalah, stress, gelisah yang akhirnya menimbulkan ragam penyakit semacam kanker, darah tinggi, stroke/penyumbatan darah di otak, sulit tidur, dan lain-lain. Makanya, Nabi mengatakan orang-orang yang tidak sujud dia akan binasa, kala terjadi peristiwa jatuhnya meteor.

Di dalam Al Quran, jatuhnya meteor ini merupakan ajang pembeda antara orang beriman dengan orang kafir. Orang kafir akan tersiksa oleh jatuhnya meteor ini. Karena efek yang lebih besar dari jatuhnya meteor ini adalah terjadinya asap global (Ad Dukhan). Asap global ini akan menyelimuti bumi sehingga sinar matahari menjadi sulit untuk masuk ke bumi yang menyebabkan banyak bakteri dan virus tumbuh dengan pesat dan menyerang manusia hingga terjadi banyak penyakit, yang kebanyakan menyerang orang-orang kafir. Orang Islam tidak terkena dampak ini secara serius karena memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik. Dalam hadis, meteor ini jatuh pada pertengahan bulan Ramadhan, di mana kekebalan tubuh Muslim sudah terbentuk karena puasa. Sedangkan orang kafir tidak memiliki tradisi puasa.

Dalam Al Quran disebutkan, “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut (Ad Dukhan) yang tampak jelas, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad Dukhan 11)

“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Kami pasti memberi balasan.” (Ad Dukhan 16)

Jatuhnya meteor, dalam konsep Barat adalah sebuah kiamat. Meteor yang jatuh itu adalah pemungkin hancurnya bumi. Dalam konsep Islam, jatuhnya meteor hanyalah sebuah awal dari peristiwa akhir zaman yang menggemparkan. Rasulullah menyebutnya sebagai Al Malhamah Al Kubro, atau huru-hara akhir zaman yang tiada tandingan. Karena pada saat inilah, Allah menunjukkan mana yang benar-benar beriman dan mana yang tidak. Di saat ini pulalah akan terjadi perang besar antara Muslim dengan orang-orang Yahudi/Kafir yang bermula dari Bukit Magiddo (Ar = pegunungan/bukit : Armageddon) di Israel. Dan pada saat ini pula, munculnya fitnah besar berupa Dajjal.

Allahuma bi shawab dan Semoga Allah melindungi kita semua.  Aamiin.


Share this :

0 komentar: