Rabu, 25 Juli 2012

Shalat Dalam Sejarah Kekristenan Awal

Jangan risau dan bingung dengan istilah Shalat karena memang kini hanya berhubungan dan ada pada Agama yang kita Anut yaitu Islam. Bagaimana dengan Shalat dalam Kekristenan atau sholat Kristen? Pada masa kini, orang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi gereja-gereja reformasi dari barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik, mungkin saja tidak pernah tahu, tetang sejarah ritus sholat pada Kekristenan Mula-mula - kuno - perdana.


Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat.

Kata Sholat berasal dari bahasa Arab, serumpun dengan kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai Shalattul Rabbaniyah.

Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian, sholat 3 waktu, yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm. 119:164).

Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore Hari (Mazmur 55:18).

Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8).

Gereja Orthodox Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat, 7 waktu, yaitu :
  1. Shalat Sa’atul Awwal (Shalat jam pertama, jam 06.00)
  2. Shalat Sa’atuts Tsalits, (Shalat jam ketiga, jam 09.0)
  3. Shalat Sa’atus Sadis, (Shalat jam keenam, jam 12.00)
  4. Shalat Sa’atut Tis’ah, (Shalat jam kesembilan, jam 15.00)
  5. Shalat Ghurub, (Shalat terbenamnya matahari, jam 18.00)
  6. Shalat Naum (Shalat malam, jam 19.00)
  7. Shalat Satar (Shalat tutup malam, jam 24.00)
Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal yang disebut De Liturgia Horarum, juga mengenal sholat 7 waktu, yaitu :
  1. Laudes (Doa pagi)
  2. Hora Tertia (Doa jam ketiga)
  3. Hora Sexta (Doa jam keenam)
  4. Hora Nona (Doa jam kesembilan)
  5. Verper (Doa senja)
  6. Vigil (Doa malam)
  7. Copletorium (Doa penutup)
Liturgia Horarum, “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu), mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis seperti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat. Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam.

Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan.

Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa).

Ashabus Shalawat :
  1. Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros, Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).
  2. Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup.
  3. Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.
  4. Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”) atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.
  5. Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”) atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.
  6. Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.
  7. Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya.
Ibadah harian dalam gereja dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian” Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam).
Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian, Daud (Mzm 55:17), Daniel (Dan 6:11), Ezra (Ezr 9:5), Yesus Sang Mesias (Luk 6:12), Petrus dan Yohanes (Kis 3:1), Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)

Para nabi dan rasul pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8), Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39), Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36), Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2),

Jadi jelaslah Pada Waktu Kekristenan Kuno Shalat telah dilakukan sebagai Ibadah ritual menyembah Yang Maha Kuasa, Allah Swt...Lalu kenapa sekarang tidak ada?anda mengerti jawabannya.
Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Dan Ingatlah
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ
“Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926 dan selainnya)
Barakallah fiekum @succes syariat islam not the others

Share this :

0 komentar: