Kamis, 19 Juli 2012

Bolehkah Orang Non Muslim Masuk Mesjid

Masjid adalah bentuk isim makan dari sajada yang artinya tempat yang khusus untuk bersujud menyembah kepada Alloh. Masjid juga merupakan tempat yang paling dicintai oleh Alloh SWT. Ada 2 kategori masjid dimuka bumi ini yaitu,: 1) Masjid Al Haram, 2) Selain Masjidil Haram. Sebagian besar ulama menyatakan bahwa masuk masjidil Haram bagi non Muslim hukumnya adalah haram. Hal ini berdasarkan firman Alloh SWT dalam surat At-Taubah, ayat 28 :
يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا اْلمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُوا اْلمَسْجِدَ الْحَرَامِ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا......
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya orang-orang musrik itu najis (kotor jiwanya), maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini.

Ada beberapa mahzab/para ulama berbeda pendapat mengenai hukum non Muslim masuk kedalam masjid.


1. Menurut madzhab Syafi’i
Imam Syafi’i berpendapat dengan dhohir daripada ayat tersebut yaitu khusus Masjidil Haram semua orang Kafir (non Muslim) tidak boleh memasukinya. Adapun selain masjidil Haram boleh.

2. Menurut madzhab Maliki
Imam Malik berpendapat bahwa orang musyrik itu adalah najis. Keharaman memasuki masjid berlaku untuk semua masjid, baik Masjidil Haram maupun masjid-masjid yang lain.

3. Menurut Madzhab Hanafi
Imam Abu hanifah berpendapat bahwa ayat tersebut adalah pelarangan bagi orang-orang kafir untuk melaksanakan haji dan umroh setelah tahun ini yaitu tahun 9 Hijriyyah.

Berdasarkan beberapa pendapat ulama diatas, Imam Al Khothobi berpendapat bahwa orang non Muslim hukumnya jawaz (boleh) memasuki masjid selain Masjidil Harom dengan beberapa syarat sebagai berikut :

1. Mempunyai hajat seperti membayar hutang kepada orang Muslim yang berada di dalam Masjid.

2. Bertahkim (meminta keadilan) kepada hakim yang hakim tersebut berada di dalam masjid. Pernah Rosululloh SAW menerima tamu orang-orang Yahudi di dalam masjid. Rosul juga pernah memnerima utusan orang Kafir dari Thoif . Rosul juga pernah menyuruh sahabat beliau untuk mengikat tawanan perang di dalam masjid.

3. Ada izin dari imam masjid.
Kalau tidak ada tujuan apa-apa bahkan masuknya orang non Muslim tersebut dikhawatirkan akan mendatangkan madlorot bagi kaum muslimin dan menjadikan fitnah maka sebaiknya memakai pendapatnya Imam Malik yang melarang kepada orang-orang non Muslim untuk memasuki semua masjidnya orang Islam

Ini ada penjelasan lain tanya Ustad :  non muslim boleh saja masuk masjid asal ada keperluan yang jelas dan tidak melakukan suatu keharaman, seperti mengotori masjid atau lainnya.

Misalnya, ia mau meneliti sesuatu hal di dalam masjid, atau sekedar hendak melihat-lihat. Ini sering terjadi di masjid-masjid bersejarah. Seperti yg saya lihat sendiri di masjid Al-Azhar Mesir, dan masjid-masjid bersejarah lainnya.

Sebagaimana kita, kaum muslim, boleh-boleh saja masuk gereja. Tentu dengan tujuan yang jelas pula. Masak kita masuk ke gereja mau ikut peribadatan. 'Kan tidak.

Terbukti dalam sejarah, Masjid Nabawi (di Madinah) menjadi tempat acara perjanjian Hudaibiyah. Di situ kumpul berbagai kelompok. Salah satu kelompok non Islam adalah Abu Sofyan yang ikut masuk ke masjid. Nabi saw juga pernah menginapkan delegasi -non muslim- dari Thaif di dalam masjid.

Adapun ayat 28 surat At-Taubat ("Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."), menurut para ahli tafsir, merupakan larangan bagi orang musyrik melakukan thawaf di Masjidil Haram.

Para ulama dulu juga berbeda pendapat dalam hal ini :

1. Abu Hanifah (imam madzhab Hanafiyah), memperbolehkan non muslim masuk masjid (mana saja), termasuk Masjidil Haram.

2. Malikiyah tidak memperbolehkan, kecuali ada keperluan penting seperti persidangan yang dilakukan atas dirinya di dalam masjid. Ketentuan ini berlaku untuk semua masjid tanpa kecuali.

3. Syafi'iyah membolehkan, asal ada keperluan, dengan mengecualikan Masjidil Haram. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Sumber :
1. Muhammad Ali As Shobuni, Tafsir Ayatul Ahkam, Darul Kutub Al Islamiyyah juz I, cet 2001 hal: 460.
2. Muhammad bin Ismail Al Amir Yamani As Shon’ani, Subulus Salam,Daarul Kutub Al Ilmiyyah, Beirut Libanon, jilid I cet.III 2004, hal: 161.
3. www. harianbangsa.com
4. Tanya ustad 

Share this :

0 komentar: