Sabtu, 16 Juni 2012

Situs Astana Gede Kawali - Ciamis



Secara administrasi situs terdapat pada Kampung  Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali. Desa Kawali merupakan salah satu pemukiman tertua di Jawa Barat. Situs berada di kaki bagian timur Gunung Sawal. Tanah situs ini berstatus tanah desa, jarak dari dari ibukota Ciamis ± 21 km ke arah utara, yaitu jalan Raya Ciamis-Cirebon. Sedangkan untuk mencapai lokasi Situs Astana Gede Kawali dari ibukota Kecamatan Kawali dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau  kendaraan roda empat ± 1,5 km ke arah barat dengan kondisi jalan telah diaspal dan baik.
Situs Astana Gede berada pada ketinggian ± 365 meter dari permukaan air laut dengan luas ± 5 Ha, sebelah barat terdapat sumber mata air Cikawali. Batas situs, sebelah utara Sungai Cikondong, sebelah timur parit kecil dari Sungai Ciguntur, sebelah selatan Sungai Cibulan, dan sebelah barat  Sungai Cigarunggung. Lingkungan situs berupa hutan lindung yang ditumbuhi oleh berbagai vegetasi cukup rapat, sehingga kelembaban situs cukup tinggi dengan suhu ± 22° C. Kondisi lingkungan tersebut akan berakibat pada pelestarian objek warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai historis-arkeologis. Situs sebenarnya siap untuk dijual sebagai objek wisata budaya dan alam, karena telah ditata dan sekeliling arealnya telah diberi pagar dan gapura masuk berada di sebelah timur laut. Selain itu telah dilengkapi lapangan parkir relatif memadai. 

Situs ini diduga kuat pada awalnya merupakan Situs Prasejarah dari kronologi megalitik. Indikasi yang dapat dilihat adalah berupa tinggalan, Punden Berundak dengan teras-terasnya dan menhir (batu tegak). Tetapi selanjutnya area situs digunakan pada masa Klasik (Hindu-Budha) dengan indikasi temuan prasasti sejumlah enam buah.  Untuk pertama kali keberadaan prasasti-prasasti Situs Astana Gede Kawali ini dibicarakan oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java, Vol II yang terbit pada tahun 1817 yang dilengkapi dengan faksimil Prasasti 1.
Punden Berundak;  diduga memiliki tiga teras dengan susunan batu, antar teras tidak begitu tampak jelas karena terdapat susunan batu sudah banyak yang hilang terutama pada teras bawah. Teras Utama; merupakan teras teratas dengan ukuran 15 meter x 13,5 meter dan tinggi teras 50-70 cm.Teras 1 ini berpagar bambu yang dianyam, di bagian tengahnya terdapat makam yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai makam Kiai Adipati Singacala seorang tokoh penyebar Agama Islam pertama di Daerah Kawali. Sekelilingnya makam menggunakan jirat dengan susunan batu empat persegi panjang, membujur utara-selatan. Melihat dari bentuk nisan dapat diduga bahwa makam ini kemungkinan baru, tidak sejaman dengan tinggalan punden berundak ataupun prasasti. Sedangkan susunan batu yang membatasi makam tersebut dengan menyusun susunan batu yang ada di bangunan punden tersebut.
Teras 2; memiliki ketinggian lebih rendah 20-40 cm, berpagar besi. Pada teras ini terdapat sejumlah  peninggalan  yang diberi cungkup sebagai pelindung, dengan pagar dari kayu. Teras berbentuk segi empat dengan ukuran panjang sisi Utara 27,6 meter sisi barat 25, 65 meter sisi selatan 27,6 meter dan sisi Timur 26,15 meter. Adapun jenis peninggalan yang di Teras 2 ini, terdiri dari pelinggih (batu datar), menhir, Prasasti 1 (1a dan 1b), Prasasti 2, Prasasti  5 dan Prasasti 6.
Teras 3; memiliki selisih ketinggian dengan Teras 2 ± 20-30 cm dan yang masih tampak sisa-sisa susunan terasnya yaitu pada sisi baratlaut. Di Teras 3 inilah Prasasti 3 dan Prasasti 4 ada. 

A. Prasasti Kawali  1 

Prasasti ini terletak di tenggara batu Pelinggih, telah diberi cungkup dengan atap dari sirap. Bangunan cungkup ini dilengkapi dengan pagar kayu dan lantai dari susunan batu kali yang disemen dan batu prasasti menyatu dengan lantai tersebut. 
Batu prasasti berbentuk empat persegi tidak sama sisi. Prasasti menghadap ke arah baratlaut, terlihat pada arah hadap permukaan batu yang terdapat tulisannya. Diduga kuat sebelum penulisan pesan-pesan, permukaan batu terlebih dahulu melalui proses pembentukan dengan perataan dan penghalusan permukaan menggunakan benda keras dan pemberian garis. Hal ini sangat jelas permukaan batu memiliki sangat rata.  Inskripsi tulisan terdiri 10 baris, dengan huruf dan bahasa Sunda Kuno. Pada setiap baris diberi garis, seolah-olah tulisan dibatasi dengan garis. Pada sudut kiri atas atau baris pertama terdapat atribut (regalia) yang menyerupai cakra dengan jenis seperti trisula pada keempat sisinya. Disamping pada permukaan atas, inskripsi tulisan terdapat juga pada keempat sisi batu (selatan, barat, utara dan timur), tetapi tidak diberi garis. 
Oleh Hasan Djafar, prasasti ini dibagi dua yaitu dengan sebutan Prasasti 1a yaitu untuk menyebutkan inskripsi tulisan yang ada di permukaan atas (10 baris) dan Prasasti 1b untuk inskripsi tulisan yang ada pada sisi-sisinya (keempat sisi).
Keterangan :
Pahatan cakra yang ada pada prasasti ini merupakan roda cakra dari kepercayaan agama Budha, sedangkan trisula berasal dari kepercayaan agama Ciwa. Keduanya menunjukan pada waktu itu sudah ada kepercayaan agama Ciwa dan agama Budha yang lama sebelumnya memang sudah ada di tanah sunda (Friederich; 1855: 158).
Menurut Kolle (1867) melihat adanya nama raja Perabu Raja Wastu yang memerintah dan mempunyai pertapaan di Kwali, menghiasi keraton, mendirikan pedesaan baru serta dengan sifat kepahlawanannya membuat parit sekeliling ibukota untuk kepentingan pertahanan. Dan diakhir dengan suatu harapan untuk anak cucunya supaya mendapat karunia umur panjang di atas dunia. 

Isi (1a)
-   O    nihan ta(n pa waLar nu sya mulia ta(n)pa i nya parebu raja was / tu mangadeg / di kuta kawali nu mahayu na kadatuan surawisesa nu marigi sakulili(ng) dayeuh nu najur sagala desa aya ma nu pa(n)deuri pakena gawe rahayu pakean heubeul jaya di na buana 
Terjemahan
- Inilah tanda bekas beliau yang mulia  Prabu Raja Wastu  (Yang) berkuasa di Kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit (di) sekeliling ibukota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakanberbuat kebajikan agar alam jaya di dunia
Isi (1b)
- hayua diponah ponah Hayua dicawuh cawuh Ia neker ina ager Ina ni(n)cak ina re(m)pag
Terjemahan
- janganlah dirintangi Janganlah diganggu Yang memotong akan ager (=hancur)  Yang menginjak akan roboh

B. Prasasti Kawali  2

Prasasti ini terletak 2,5 m sebelah timurlaut dari Prasasti 1. Objek telah diberi cungkup (2,65x2,23 m) dengan atap sirap kayu dan lantai susunan batu kali yang diberi semen. Sedangkan batu prasasti yang berupa batu tegak (up right-stone), berdiri menyatu dengan lantai, di bagian bawahnya (sebelah tenggara) terdapat tiga buah batu yang seolah-olah menopang posisi prasasti yang terlihat agak miring ke arah baratdaya. 
Dengan memperhatikan permukaan batu tersebut, dapat dinyatakan bahwa Prasasti ini menghadap ke arah timurlaut. Sebelum permukaan batu dipahat dengan inskripsi tulisan, terlebih dahulu melalui proses penghalusan. Sehingga diperoleh permukaan cukup rata dan halus. Prasasti ini tidak memiliki tanda atau hiasan. 
Inskripsi tulisan menggunakan tulisan dan bahasa Sunda Kuno, berjumlah 7 baris yang dipahatkan pada permukaan batu. Pada bagian bawah diberi garis bawah. 
Keterangan :
Prasasti ini pendek sekali bahkan kalimatnya seolah-olah belum selesai, tetapi susunan keseluruhannya cukup indah dalam persajakan. Hal ini menunjukan bahwa si pembuat prasasti mengerti atas susunan puisi. Isinya berupa suatu harapan untuk orang-orang yang mendiami daerah Kawali yang karena keamananya merupakan suatu syarat untuk menang dalam peperangan. Tidak ada nama raja seperti pada Parasati 1, akan tetapi dari persamaan bahasanya menunjukan dari pembuatannya yang sama pula. 

Isi :
- aya ma Nu ngeusi na kawali ini pakena kerta bener pakon na(n)jorna juritan
Terjemahan
- Semoga adayang menghuni di kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan agar unggul dalam perang kebenaran (kesejahteraan)sejati agar tetap unggul dalam perang 

C. Prasasti Kawali  3 (Batu Tapak Berinskripsi)

Batu Prasasti 3 terletak 12 m sebelah tenggara dari batu pelinggih atau  25 me sebelah selatan dari Prasasti 1. Objek Prasasti  3 ini telah diberi cungkup sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari. Atap cungkup menggunakan sirap kayu dan berlantai susunan batu kali yang disemen, sedangkan objek prasasti sendiri tidak menyatu dengan lantai. Sekeliling cungkup diberi pagar kayu setinggi 90 cm, dengan pintu sebelah selatan.
Objek batu prasasti berbentuk segi lima tidak sama sisi. Permukaan batu kemungkinan besar mengalami proses penghalusan, meskipun masih terdapat permukaan berlubang. Inskripsi tulisan hanya satu baris yang diletakan pada sisi barat, menggunakan huruf dan bahasa Sunda Kuno. Inskripsi tulisan tersebut dibaca dari arah barat. Pada sebelah atasnya (sisi utara permukaan batu) terdapat pahatan (guratan?) yang terbagi dalam 5 kolom dan 9 baris, sehingga jumlah 45 kotak dengan rata-rata berukuran  11 cm. Sedangkan pada sisi selatan masih terdapat relief, yaitu sepasang telapak kaki dan telapak tangan kiri yang menghadap ke arah utara atau pahatan. 

•    Isi         
- sang hyang lingga hyang 
•   Terjemahan
-  Sang Hyang Lingga Hyang

D. Prasasti Kawali  4

Objek terletak  20 meter sebelah baratlaut dari lingga semu (?). Prasasti ini telah dilindungi dengan cungkup (2,69x1,67 m), beratap sirap kayu dan lantai susunan batu kali yang disemen. Objek terbuat dari batu andesit berbentuk batu tegak (up right-stone) yang menyatu dengan lantai. Di sebelah barat daya terdapat batu panjang dalam posisi rebah. 
Permukaan batu yang terdapat inskripsi tulisan kemungkinan besar mengalami proses penghalusan. Prasasti ini menghadap ke arah timur laut. Pada permukaan batu ini hanya terdapat dua baris inskripsi tulisan dengan menggunakan huruf dan bahasa Sunda Kuno. Kondisi objek relatif terpelihara, meskipun pada timur laut bagian bawah terdapat jasad renik, moss.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat Batu Prasasti ini disebut juga Batu ‘Panyandungan’. Menurut legenda, di astana Gede Kanjeng Raja Prabu Wastu Kancana sering menghilang (ngaleungit). Selama menghilang ternyata beliau sedang mengelilingi batu panyandungan selama 7 kali sambil tidak bernafas. Selesai mengelilingi batu panyandungan Beliau merasa pusing kepalanya. Kemudian beliau memberikan peringatan kepada orang-orang yang ingin memadu (nyandung). Bahwa rasa pusingnya seperti orang yang sedang mengelilingi batu 7 kali.
Isi         :  
 - sang hyang
 -  bingba 
Terjemahan  
- Sang Hyang Lingga                       
-  Bingba (=arca)

E. Prasasti Kawali  5

Objek terletak 4 m sebelah tenggara lingga semu (?). Prasasti ini telah dilindungi dengan bangunan cungkup (2,69x1,67 m), beratap sirap kayu dan lantai susunan batu kali yang disemen. Objek terbuat dari batu andesit berbentuk batu tegak (up right-stone) dengan posisi agak miring ke arah baratdaya. Batu prasasti ini berdiri menyatu dengan lantai. Di sebelah barat daya terdapat batu panjang dalam posisi rebah. 
Permukaan batu yang terdapat inskripsi tulisan kemungkinan besar mengalami proses perataan dan penghalusan. Prasasti ini menghadap ke arah timur laut. Pada permukaan batu ini hanya terdapat dua baris inskripsi tulisan dengan menggunakan huruf dan bahasa Sunda Kuno. Menurut Dr. J. Noorduyn prasasti ini seharusnya dibaca “a(j)nana” yang berarti “perintahnya”, perintah dari Sri Maharaja Perabu Raja Wastu. 
Kondisi objek relatif terpelihara, meskipun pada sisi timurlaut bagian bawah terdapat jasad renik, moss.

Isi        :  
 - anana 
Terjemahan  
- perintahnya (Prabu Wastu)

F. Prasasti Kawali  6

Prasasti ini terletak 2,5 m sebelah barat laut dari Prasasti 1. Objek telah diberi cungkup (2,65x2,23 m), berpagar dari kayu setinggi 123 cm, beratap sirap kayu dan lantai susunan batu kali yang diberi semen. Sedangkan batu prasasti yang berupa lempengan batu datar berbentuk segi empat, menyatu dengan lantai. 
Permukaan batu yang terdapat inskripsi tulisan relatif datar, kemungkinan besar telah mengalami proses perataan atau penghalusan.  Prasasti menghadap ke arah baratlaut, terlihat pada arah hadap permukaan batu yang terdapat tulisannya. Inskripsi tulisan terdiri 6 baris, dengan menggunakan huruf dan bahasa Sunda Kuno. Pada setiap baris tidak diberi garis seperti pada Prasasti 1. Pada sudut kiri atas atau baris pertama terdapat gambar flora yang mempunyai ukuran lebih besar daripada hiasan yang ada di Prasasti 1. Prasasti 6 ini ditemukan menyusul setelah prasasti dan objek lainnya ditangani, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1995 oleh Juru Kunci situs Kawali, Bapak Sopar ketika sedang membersihkan lahan situs.  
Regalia berupa pahatan cakra yang ada pada Prasasti Kawali 6 ini sama seperti pada Prasasti Kawali 1. Tanda tersebut  berupa roda cakra dari kepercayaan agama Budha, sedangkan trisula berasal dari kepercayaan agama Ciwa. Keduanya menunjukan pada waktu itu sudah ada kepercayaan agama Ciwa dan agama Budha yang lama sebelumnya memang sudah ada di tanah sunda (Friederich; 1855: 158).
Isi  :  
- O    ini perti(ng)gal nu atisti rasa aya ma nu eusi dayeuh iwo ulah botoh bisi kokoro
Terjemahan
- Ini peninggalan dari (yang) astiti (dari) rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi bisa sengsara

Lokasi: Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali
Arah: 15 km arah utara Ciamis


Share this :

0 komentar: