Jumat, 20 Mei 2011

Pola Pergerakan Bulan dan Efek terhadap Penampakannya di Bumi

Pernahkah memperhatikan penampakkan bulan? Mengapa muka bulan yang dapat terlihat dari bumi adalah separo bulatan yang sama saja? Mengapa belahan bulan  lainnya tidak pernah terlihat? Bagaimana pola pergerakan bulan dan
Penampakkan Bulan di Bumi akan dipengaruhi oleh posisi relatif bulan terhadap bumi dan matahari.
hubungannnya dengan penampakkan wajahnya? Itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bulan dikenal sebagai satelit bumi. Satelit artinya pengikut, karena bulan selalu bergerak mengelilingi bumi. Sementara bumi yang merupakan induk  di dalam waktu sama juga bergerak dalam orbitnya mengitari matahari.
Bulan berbeda dengan matahari yang memancarkan cahaya kemilau dan panas, ia memancarkan cahaya sejuk dan dingin. Fakta ini menunjukkan bahwa apa yang dipancarkan oleh matahari dan bulan tidak sama. Ilmuwan Yunani bernama Aristarchus  (310-230 SM) adalah orang pertama yang berpendapat terkait dengan fakta tersebut mengatakan bahwa bulan tidak mengeluarkan cahaya sendiri seperti matahari. Bulan hanya menerima sinar matahari dan kemudian sinar itu dipantulkan oleh tanah
Fase-fase penampakkan bulan Sumber Foto : Internet
permukaannya. Dengan demikian bulan bukanlah sumber cahaya, dan cahaya yang kita lihat itu adalah hanya pantulan dari sinar matahari.
Logika lain yang dibangun untuk sampai pada kesimpulan demikian adalah Aristarchus berangkat dari argumen bentuk bulan yang selalu berubah-ubah. Kalau bulan memancarkan cahaya sendiri, tidak mungkin kita melihatnya berubah bentuk. Sebab jika bulan merupakan sumber cahaya tentu seluruh permukaannya akan bersinar sehingga darimanapun melihatnya bentuknya akan tetap sama.
Citra wajah bulan yang bisa disaksikan dari Bumi Sumber Foto: Internet
Sebenarnya bukanlah bulan yang berubah bentuk, tetapi pola hubungan yang terbentuk dari kedudukan bulan dari arah matahari yang dilihat dari bumi itulah yang bergeser dari waktu kewaktu. Akibat yang ditimbulkan adalah perubahan penampakan bulan dari bumi. Logika di atas dapat pula digunakan untuk membangun teori bahwa bulan bergerak mengitari bumi pada orbitnya. Dengan kata lain, bulan tidak akan berubah bentuknya kalau ia tidak bergerak mengitari bumi. Selanjutnya kita lebih fokus pada bahasan mengapa wajah bulan yang kelihatan dari bumi hanya separoh, sedangkan bagian lainnya tak pernah kita saksikan dari bumi. Apa yang menyebabkan penampakkan bulan seperti ini?
Citra wajah bulan yang tidak tampak dari bumi Sumber Foto: Internet
Penampakkan konstan bulan yang demikian disebabkan adanya keseimbangan pergerakan bumi dan dan bulan, yaitu lama peredaran bulan mengitari bumi sama dengan lamanya waktu bulan berotasi pada sumbunya. Jangka waktu yang diperlukan adalah 1 bulan. Akibatnya bagian bulan yang tampak dari bumi hanyalah sebelah muka yang sama saja. Sedangkan belahan bulan yang lain tidak pernah tampak. Untuk melihat wajah bulan yang sebelahnya manusia mesti pergi ke luar angkasa.
Sampai di sini mungkin kita bertanya, jika keseimbangan gerak terjadi antara evolusi bulan dan rotasinya berarti permukaan bulan yang mungkin dilihat dari bumi adalah satu belahan yakni 50% permukaan bulan. Oh tidak, ternyata tidaklah demikian. Pergerakan bulan yang tidak sederhana menimbulkan efek penampakan yang tidak sesuai dengan logika di atas.
Ketika melakukan geraknya yang khas bulan tidak selalu terletak pada bidang yang sama. Baik bentuk atau posisinya yang relatif terhadap matahari dan bumi secara terus menerus berubah. Karena sebab-sebab inilah maka bagian bulan yang terlihat di bumi agak berbeda sehingga setelah satu periode waktu  (yakni 1 bulan) kita dapat melihat 59% permukaan bulan dari suatu tempat pengamatan di bumi. Perubahan-perubahan dalam orbit bulan terjadi dalam daur-daur. Karena hal inilah, permukaan bulan yang dapat dilihat mengalami librasi, sehingga daerah-daerah kecil di tepi cakramnya yang bisa diamati terlihat. Dengan kata lain titik tengah dari bulatan bulan yang nampak bukanlah titik yang sama saja, melainkan bergeser sedikit letaknya. Dengan demikian bagian bulan yang dapat disaksikan dari bumi lebih luas sedikit dari separoh. Sisi-sisi piringan pada kutub utara dan selatan serta bagian kanan kirinya dapat berganti-ganti terlihat. Librasi atau gerak berguncang bulan dapat diperinci sebagai berikut:
Librasi lintang menimbulkan efek bulan mengangguk-angguk
Pertama, Librasi dalam garis lintang. Ini disebabkan gerak bulan mengangguk. Efek yang ditimbulkan adalah daerah kecil pada kutub-kutub bulan secara bergantian tampak dari bumi setelah bulan berkeliling setengah dari lintasannya. Atau titik pusat bulatan bulan yang tampak bergeser naik turun. Untuk lebih memahami gerakan bulan yang demikian perlu kita mengingat bahwa lintasan bulan bersifat elips. Pada waktu tertentu bulan berada pada posisi terdekat dengan bumi, diwaktu yang lain bulan berada dalam jarak lebih jauh dari bumi. Sama halnya seperti lintasan bumi yang ellips terhadap matahari. Lintasan yang ellips ini membuat jarak matahari-bumi dan jarak bulan-bumi berubah secara periodik. Dalam kasus ini berlaku hukum Keppler II dan Hukum Gravitasi yang membawa efek terhadap percepatan dan perlambatan gerak jatuh melingkar.
Kedua, Librasi dalam garis bujur.
Librasi Bujur: Permukaan bulan bergeser ke timur dan barat
Ini disebabkan karena kecepatan bergeraknya bulan mengitari bumi tidaklah tetap. Kadang-kadang cepat kadang kadang lambat. Padahal gerak rotasinya selalu tetap. Ini menimbulkan efek permukaan bulan yang Nampak dari bumi bergeser dalam arah timur dan barat, atau librasi dalam garis bujur. Gerak seperti ini jika disimulasikan seolah-olah bulan melakukan gerak menggeleng kekiri dan kekanan. Untuk melihat simulasi bagaimana bulan melakukan gerak menggeleng dan mengangguk dapat pembaca lihat pada animasi berikut: http://aa.usno.navy.mil/graphics/Moon_movie.gif
Ketiga, Librasi Paralaks.
Librasi Paralaks : dari posisi yang berbeda permukaan bulan tampak juga berbeda
Librasi ini disebabkan oleh posisi pengamatan yang berbeda dari orang yang menyaksikan bulan di bumi. Pengamat A akan melihat titik pusat bulan pada titik a, sedangkan pengamat B akan melihat titik pusat bulan di b. Karena jarak antara bumi di bulan tidak jauh yaitu sekitar 385.000 km, maka perbedaan tampak menjadi sangat jelas. Ada bagian tertentu dari bulan yang tidak bisa dilihat oleh A tampak oleh B, sebaliknya ada bagian bulan yang tidak tampak oleh B dapat dilihat oleh A.
Pengaruh ketiga jenis librasi ini menyebabkan permukaan bulan yang tampak dari bumi menjadi lebih dari separoh. Angka tepatnya tidak dapat diperoleh hanya dengan pengamatan biasa dan sepintas. Harus dilakukan penelitian dan pengukuran secara cermat. Tetapi jika diperkirakan secara kasar kurang lebih sebagai berikut: Bagian yang tampak dan selalu menghadap ke bumi 3/7; bagian yang tidak pernah tampak dari bumi 3/7 dan Bagian yang tampak karena faktor Librasi adalah 1/7. Maka permukaan bulan yang dapat dilihat dari bumi adalah sekitar 4/7 bagian atau lebih dari separo.

Share this :

0 komentar: