Jumat, 20 Mei 2011

Newton pun menyingkap Makna Alquran


Kitab Alquran: Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Memahami pesan Alquran tidaklah cukup dengan suatu disiplin ilmu tertentu saja, misalnya hadis, bahasa Arab, ulum Alquran dan lain-lain yang dikategorikan sebagai ilmu khas keislaman. Ilmu-ilmu ini memang pokok, tetapi tidaklah cukup. Setiap disiplin ilmu dapat memberikan kontribusi untuk pemahaman ayat Alquran yang lebih baik. Kadang-kadang ada ayat yang dapat dipahami dengan pendekatan kebahasaan, ada pula ayat-ayat yang hanya dapat dipahami maksudnya dengan melihat sebab turunnya, maka yang dipakai
adalah ilmu asbab al-nuzul, ada ayat-ayat yang bisa dipahami dengan ilmu hadis untuk menjelaskan, tetapi ada juga ayat Alquran yang hanya dipahami maksudnya dengan meminjam ilmu lainnya di luar itu seperti kimia, fisika dan astronomi. Maka, secara umum tidak boleh ada anggapan atau claim disiplin ilmu tertentu saja sebagai pemegang otoritas untuk memberikan penjelasan atau penafsiran. Semua tergantung kepada tema ayat, berbicara apa sebuah ayat dan pendekatan apa yang digunakan. Dengan demikian tidak perlu ada penafsiran model tertentu yang dipaksakan untuk mendekati sebuah tema.

Penulis ingin mencontohkan salah satu ayat Alquran dalam surah Fathir:41:
إن الله يمسك السموت والأرض أن تزلا ولئن زالتا إن امسكهما من احد من بعده أنه كان حليماغفورا
Artinya:
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Menentukan Tema dan Pendekatan
Tidak semua ayat Alquran ada penjelasan tentang sabab nuzul-nya. Ada ayat yang turun begitu saja tanpa dilatar belakangi oleh peristiwa yang diketahui sebagai penyebabnya, ayat di atas tidak bisa dijelaskan dengan asbabun nuzul. Demikian pula ilmu hadis, tidak semua ayat Alquran dapat dijelaskan dengan hadits, meskipun salah satu fungsi hadis adalah sebagai penjelas Al-quran. Maka tidak perlu pula memaksakan hadits-hadits tertentu untuk menjelaskan dan berspekulasi tentang ayat di atas.
Melihat tema dari ayat tersebut, maka salah satu disiplin ilmu yang relevan untuk menjelaskan ayat di atas adalah disiplin fisika dan astronomi. Sebagaimana makna dasar kebahasaan (etimologi) ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Allah menerapkan hukumNya untuk menahan langit dan bumi agar tidak lepas dari kendali. Tetapi apa dan bagaimana cara kendali Allah bekerja, itulah yang perlu diselidiki dan ditafsirkan, sebab hukum yang bekerja untuk mengendalikan itu tidaklah terlihat secara kasat mata.
Dan Newton pun Menyingkap Makna Alquran
Isaac Newton: Ahli Fisika Penemu Hukum-Hukum Gaya termasuk Gravitasi
Mengapa bumi yang bulat ini melayang di langit dan terus bergerak dalam kekosongan ruang. Mengapa kita yang tinggal di permukaannya tidak jatuh ke langit yang kosong itu, meskipun kita mencoba melemparkan diri ke angkasa kita akan tetap tertahan dan jatuh di bumi.  Mengapa bumi dengan massa yang jauh lebih kecil dari matahari tidak tertarik oleh matahari dan selalu mempertahankan gerakan jatuh melingkar yang disebut evolusi itu. Mengapa air tidak jatuh kelangit dan tetap tertahan dibumi. Ini semua tentu tidak bisa dijelaskan begitu saja oleh ilmu hadits, asbab al-Nuzul dan nalar kebahasaan secara memadai, bagaimana cara kendali Allah itu bekerja secara ajaib.
Berkat ilmu fisikalah kita bisa memahami salah satu hukum Allah yang bekerja untuk menahan bumi dan langit itu. Berkat jasa seorang Isaac Newton lah bunyi ayat yang disebutkan dalam Alquran itu dapat dipahami berdasarkan sains. Hukum garvitasi menjelaskan air, batu dan benda benda lainnya tertahan dipermukaan bumi karena di pusat bumi ada sebuah gaya yang bekerja yang menarik kita ke arah pusat bumi. Hanya saja tarikan itu tertahan oleh permukaan tanah tempat kita berpijak.
Mengapa bumi dan planet-planet lain tidak ditelan oleh matahari, sehingga tetap bertahan di garis edarnya? Itu juga bisa dijelaskan dengan hukum gravitasi, karena bumi dan planet-planet lainnya dengan massa tertentu, bergerak dengan kecepatan tertentu pada jaraknya yang juga tertentu, sehingga memunculkan kesetimbangan gaya. Percayalah, seandainya bumi ini diam dan tidak bergerak dalam kecepatan yang cukup matahari akan menarik dan menelannya.
Matahari dengan massa yang jauh lebih besar memiliki gaya gravitasi yang lebih besar, tetapi kekuatan gravitasi matahari diimbangi oleh kecepatan bergerak bumi terciptalah kesetimbangan gaya. Seandainya kecepatan bumi bergerak lebih cepat dari sekarang hingga berkali lipat, bumi juga akan terlempar dari lintasannya. Entah akan kemana lenyapnya bumi seperti isyarat ayat. Kekuatan gravitasi dapat ditiadakan oleh gerakan dalam kecepatan tertentu.
Demikian gambaran sekilas, jasa fisika untuk menjelaskan ayat Al-quran yang tidak mungkin ayat tersebut di pahami dengan baik tanpanya. Para ahli fisika, ahli kimia kimia, matematika dan lain-lain yang selama ini dianggap tidak memiliki otoritas untuk mendekati Alquran tidak perlu ragu-ragu untuk bersentuhan dengan Alquran. Dekati Alquran, berikanlah penafsiran sesuai keahlian dan tema. Alquran memiliki banyak tema, masing-masing tema membutuhkan sentuhan ahlinya. Pemahaman yang menganggap hanya ahli ilmu tertentu saja yang berhak menafsirkan Alquran sudah harus ditinggalkan, karena model penafsiran tertentu belum tentu cocok untuk mendekati tema yang berbeda. Kalaupun dipaksa-paksakan pasti kering bobotnya.

Share this :

0 komentar: