Sabtu, 21 Mei 2011

DARWIN vs RUMI

Membicarakan teori evolusi tidak bisa mengabaikan sosok ilmuwan bernama Charles Darwin (w. 1882), seorang ahli biologi beraliran naturalis berkebangsaan Inggris. Setelah menemukan teori evolusinya yang terkenal itu Darwin tidak lagi menganggap bahwa makhluk-makhluk biologis yang ada di alam semesta ini sebagai hasil ciptaan Tuhan, melainkan semata-mata mekanisme hukum seleksi alamiah (natural selection). Pandangan seperti ini dalam paradigma keilmuan disebut positivisme. Positivisme sendiri awalnya dibidani oleh dua orang filosof Perancis, yaitu Henry Saint Simont (1760-1825) dan muridnya August Comte (1798-1857), keduanya berperan menjadikan positivisme sebagai aliran filsafat ilmu yang begitu pervasive dan mendominasi wacana filsafat ilmu abad 20.
Positivisme menjadikan emperisme sebagai sumber filosofisnya yang memandang bahwa pengetahuan harus berawal dari verifikasi empiris. Disini realitas adalah data. Di luar data segalanya adalah asumsi atau hipotesa. Karena kemampuannya menjelaskan teori evolusi Darwin tidak merasa tidak membutuhkan lagi hipotesa tentang Tuhan pencipta.

Sebelum teori evolusinya, Darwin adalah seorang Teis (percaya Tuhan) dan pemeluk Kristen yang taat. Sebelumnya ia percaya bahwa fenomena alam yang teratur dan harmonis ini tidak lain hanyalah bukti (ayat) adanya Tuhan. Dalam wacana filsafat agama argumen seperti itu disebut dalil inayah. Namun setelah menemukan apa yang disebutnya sebagai hukum seleksi alamiah, Darwin meninggalkan argumen itu dan kemudian menolak keberadaan Tuhan, karena terpengaruh oleh pandangan ilmiahNya. Dalam otobiografinya Darwin mengatakan : “Dulu orang boleh mengatakan bahwa bukti terkuat adanya Tuhan Sang Pencipta adalah keteraturan dan harmoni alam. Namun setelah hokum seleksi alam ditemukan, kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa engsel karang yang indah, misalnya, harus merupakan ciptaan agen di luar dirinya (Tuhan), seperti halnya kita mengatakan bahwa engsel pintu mestilah merupakan ciptaan seorang tukang”.

Dengan teorinya Darwin telah menanggalkan dalil inayah yang semula dianutnya, peran Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara semesta digantikannya dengan natural selection. Sebuah pandangan keilmuan puncak yang umumnya terjadi dalam penganut positivisme. Sehingga dalam pernyataannnya yang lain Darwin mengungkapkan : “Secara perlahan-lahan, aku menjadi tak percaya pada agama Kristen sebagai wahyu ilahi. Ketidakpercayaan itu merayap di atasku secara perlahan-lahan, tetapi akhirnya sempurna”.

Sebagai salah satu aliran filsafat, ternyata positivisme berperan menghentikan filsafat dari kerja spekulatifnya mencari hakikat-hakikat ontologis maupun metafisis yang dijalani selama ribuan tahun. Dalam positivisme filsafat tidak memiliki cara kerja lain selain cara kerja sains.

Dikalangan Islam, doktrin evolusi juga telah dianut dengan kuat oleh para filosof dari kalangan Mu’tazilah. Pemikiran filosofis atas persoalan tersebut antara lain dikemukakan oleh Hasan bin Haitam atau Ibnu Haitam sebagai berikut : “Dalam wilayah alam benda yang ada, kerajaan mineral berada di tempat terbawah, menyusul kerajaan tetumbuhan, binatang dan akhirnya manusia. Manusia dengan badannya, ia termasuk dunia materi, sedangkan jiwanya termasuk bagian dunia imateri atau dunia spiritual. Di atas manusia hanya ada wujud yang benar-benar spiritual-para malaikat-diatasnya lagi hanya ada Tuhan. Tingkat yang terbawah dihubungkan dengan rantai kemajuan ke arah yang tertingi. Tapi jiwa manusia terus menerus berusaha keras menolak belenggu materi dan begitu bebas, jiwa itu naik menuju Tuhan dari mana ia sebenarnya berasal.”

Gagasan ini selanjutnya diungkapkan dengan indah oleh Jalauddin Rumi dalam Masnawi karyanya : “Setelah mati di dunia anorganik manusia akan masuk ke dunia tetumbuhan. Setelah mati di dunia tetumbuhan, ia bangkit ke dunia satwa. Dan setelah meninggalkan dunia satwa ia menjadi manusia. Mengapa takut kematian akan merendahkan kita? Di dunia-antara berikutnya kita menjadi malaikat. Dari dunia malaikat kita bangkit dan menjadi sesuatu yang tak terjangkau pikiran manusia. Kita kemudian akan menyatu dengan Yang Tak Berhingga seperti sediakala. Tidakkah kita telah diberitahu?”Semua manusia akan kembali kepada-Nya?”.

Para filosuf Muslim masa lalu tidak menolak konsep evolusi, termasuk Jalaluddin Rumi. Baik Darwin maupun Rumi sama-sama percaya pada evolusi, tetapi keduanya memiliki penjelasan yang berbeda. Jika Darwin membangun pandangannya berlandaskan fenomena empiris-materialistik, dan hukum seleksi alamlah yang yang bertangungjawab terhadap perkembangan evolutif alam semesta.
Sedang bagi Rumi, cinta alam kepada Tuhanlah yang mendorong alam berevolusi. Dalam konsep ini Rumi meletakkan wujud prima kuasa absulot yang dihubungkan dengan rantai yang tak putus-putus dengan ciptaanNya yang paling rendah. Jiwa abstrak yang terwujud dalam individu manusia senantiasa berjuang dengan penyucian hidup, disiplin diri, dan studi intelektual, untuk menggapai tujuan Kesempurnaan-yaitu untuk kembali ke Sumber tempat asalnya.

Share this :

0 komentar: